Sabtu, 22 Maret 2014

In school health unit 3 (Masa lalu Luna)

     Dahulu dimana semua orang menyukaiku, dimana semua orang memanggilku "manis", dimana aku memiliki banyak teman, dimana rumahku penuh dengan mainan kesukaanku.. Tentu saja begitu! Saat itu umurku baru 7 tahun. Teman ibuku dan anaknya yang kebetulan seumuran denganku mereka sangat sering datang kerumah, anak itu nama panggilannya Ian. Aku dan Ian sangat dekat, sampai sampai kami berenang bareng dirumahku hihihi XD. Aku dari kecil suka memasak. Setiap aku membuat kue bersama ibuku, Ian yang pertama makan kue buatanku. Dan dia sangat menyukainya. Katanya "Mantaapp! melegit!". sejak saat itu, aku sangat bahagia kalau sedang memasak.
     Saat kami lagi asik bermain tiba tiba datang anak lain yang semuran denganku yang berbadan gemuk, saat itu dia lebih tinggi dariku, namanya Faizal. bersama kawan kawannya, mereka mengajak ku taruhan..
(dalam bahasa anak kecil)
     " Luna, cepat kamu jalan kelabirin milikmu itu? " tanya teman Faizal
     " Buat apa aku kesana?, engga boleh sama mamahku."
     " kenapa tidak mau, kamu harusnya mematuhi perkataanku!"
     " Emang kamu siapa? kenapa aku harus mematuhi kata kamu?!"
     " Aku ini bos! aku lebih kaya darimu! ibuku lebih cantik dari ibumu, dan luas rumahmu itu hanya setengah dari rumahku!"
     " Aku tidak peduli.. udah ya aku pengen main sama Iyan." kataku menarik tangan Ian. Tetapi ditarik lagi sama Faizal. Dengan kemampuan karate yang dipelajarinya, Faizal langsung menyekap Ian.
     " Luna! kalau kamu ga mau masuk. aku akan mencekik Ian." Ancam Faizal sambil menaruh tangannya didekat leher Ian
     " Luna~~ aku takuutt~" ucap Ian ketakutan
     " Lepasin dia! anak gendut yang nakall!!!" Teriakku dengan berani
     " Apa kamu bilang?? gendut?! aku tidak gendut! aku ini bergizi!" Faizal marah
     " Kamu itu gendut.. apa kamu tidak menyadarinya? perutmu itu sudah seperti ibu hamil tauu! balikin Ian!!"
     " Diam kamu! atau kucekek teman baikmu ini!" ancamnya kembali
     " lepaskan dia! baik,aku akan masuk kesana jika kamu menepati satu janji." ucapku serius
     " Janji apa sih??"
     " Jangan pernah menyentuh Ian lagi, jika perlu kamu jangan pernah datang kesini lagi!"
     " Itu gampang.. sudah sono masuk. Ian akan aku sandera.. jika kamu tidak balik dari labirin besar itu. Iyan akan jadi budakku "
     " Ian. Tunggu aku kembali!! jangan sampai dia memperbudakmu. ingat kata ibumu? kamu ga boleh sakit. jangan biarkan mereka membuat kamu sakit lagi, kamu mengerti?" kataku  kepada Ian dengan bersemangat. Ian hanya mengangguk dan melepaskan tanganku.

dilabirin..

   Semuanya terlihat sama, dindingnya, jalannya. sebenarnya untuk apa ibu membuat labirin ini ya? menurutku labirin ini tidak penting, kenapa labirin ini tidak dihancurkan dan diganti dengan kolam renang baru dengan perosotan yang licin? aku harap ibu akan segera menghancurkan labirin ini.

beberapa jam kemudian....

     " Mana sih si Luna?? belum balik kan guys??" tanya Faizal pada kawannya
     " Belum bos, gimana kalau kita kerjain tu si Ian. lumayan jadi pembantu kita bos."
     " Bagus bagus.. kalau gitu sekarang suruh dia kerja! suruh dia ambilin kursi 2 dan mejanya 2 dan ambil handuk juga ambil kue diatas meja dan jangan lupa susu putih bikinan mamahnya Ian!"
     " Ian kamu dengar kan kata bos? cepat ambilkan semua yang dia minta. karena sekarang kau adalah budaknya!"
     " Tidak, aku tidak mau, aku sudah janji dengan Luna aku akan menunggunya sampai dia pulang.!!" Teriak Ian gemeteran.
     " Ohhh... jadi sekarang kamu berani ya melawan kami!!" teriak Faizal
     " Baik aku akan menurutimu! tapi jika Luna kembali. kamu akan menyesal!" ancam Ian
     " Aku tidak takut anak cengeng! teman baikmu itu tidak akan kembali dan akan mati disana. dia tidak tau kalau ayahku sudah menutup pintu labirin jam 2 siang" ucap Faizal dengan sangat yakin

   Ian pun menuruti semua yang mereka minta. tanpa sepegerahuan mamahnya, Ian bikin Susu sendiri. ian tidak mau ibunya tau jika dia harus melakukan semua ini. 1 jam kemudian, dia merasa lelah, pandangannya mulai berkunang. Ian teringat kata dokter bahwa dia mengidap menyakit tipus. kata mamahnya dia tidak boleh terlalu capek.
     " Luna cepatlah kamu datang.. aku butuh kamu Luna"

Sementara itu di labirin..

     " Dasar Faizal gendut dan bodoh! ini kan labirinku, mana mungkin aku terjebak. aku kan sudah 10 kali lewat labirin ini, walau dengan melalui pintu darurat yang ada disetiap tikungan." kataku percaya diri
    sesampainya ditikungan. aku tidak bisa membuka pintu itu, aku teringat bahwa aku tidak bawa kunci darurat, tolong aku aku tidak tau jalan.
    Aku berlari menyusuri labirin itu. aku menangis disepanjang labirin itu, apakah ini akhir hidupku? aku kan baru 5 tahun..
     " Ibu, Ayah maafkan Luna, Luna jadi anak nakal.huhuhuhu :'("
tiba tiba datang seseorang dari pintu darurat.
     " Luna bukan anak nakal kok." ucap seseorang itu dan segera memelukku
     " Ayah! kenapa ayah bisa disini? Ayah sudah pulang dari kantor? Ayah, Luna sangat ketakutan." tanyaku dengan cepat.
     " Aduh anak manis jangan takut ya! Ayah sudah pulang nak, Ayah liat kamu dicctv sedang menangis. jadi Ayah kesini."
     " Terimakasih yah, Ayah pahlawan Luna!"
     " Ayah senang jadi pahlawannya Luna. Ayo kita masuk kerumah nak!"


sesampainya dihalaman rumah..

     " Ayah masuk duluan ya Luna!" ucap Ayah mengelus kepalaku
     " Baik Ayah." jawabku menurut

    Setelah Ayah masuk kedalam rumah, aku melihat sekitar halaman belakangku, tetapi aku tidak melihat Ian. aku memutari halaman, tetapi tidak bertemu juga.. sampai aku bertemu kawan kawan Faizal..

     " Hei! aku ini menang tau, kemana Ian??" tanyaku dengan mata yang membesar
     " Kami... Kamiii... sebenernya tadi Faizal yang mengajaknya kekolam renang kecil yang ada disana.. ma.. maafkan kami ya Luna, kami biarkan dia seperti itu." jawab mereka serentak
     " Maksud kalian apa? aku tidak mengerti, kalian membiarkan apa? tolong beritahu yang jelas."
     " Kamu liat saja sendiri, aku dan teman temanku tidak mau liat dia.." Jawab Faizal dan langsung pergi.
 Aku khawatir, aku segera menuju kolam renang kecil itu, Ian basah kuyup, mungkin dia berenang disore hari yang dingin ini, mukanya pucat, tubuhnya melemas, bergetar , ibunya memeluknya dan menyuruh Ayah ku memanggil dokter, aku terkejut sahabatku bisa jadi sepeti ini.
     "Maafkan aku ian, aku meninggalkanmu terlalu lama." ucapku didalam hati
aku menangis sangat kencang dan berlari sangat kencang untuk mengambil selimut ku untuk menghangatkannya.

     sudah hampir jam 9 malam. Aku tetap belum bisa tertidur. Aku merasa bersalah datang terlambat pada saat itu..

     " Luna belum tidur?" tanya mamah dari depan pintu kamar
     " Aku kasian sama Ian.. apakah dia akan mati?" tanyaku dan menitikkan air mata
     " Tidak Luna, Ian udah pulang kerumah.. kata dokter dia hanya pingsan."
     " Benarkah?? huff.. "
     " Kalau gitu, kamu tidur sekarang" kata mamah dan mematikan lampu kamar.

mungkin itulah terakhir kalinya aku panik luar biasa seperti itu...

     " Wuaaaahhh!!! cerita lu keren banget Lun.. masa kecil lu bahagia banget pastinya kan??" Ucap Dinda begitu bersemangat
     " Apa yang bahagia? sehabis itu gue ga pernah ketemu sama Ian lagi tau.." kataku menepuk pundaknya
     " Ahh~ Luna, aku minta maaf"
     " Hahaha.. iya gapapa.. eh tapi namanya kayak pangeran kelas kita ya" tanyaku
     " Iyaya.. kemarin dia minta bekal lu dan dia sangat menyukainya. Sama seperti Ian dicerita lu itu."
     " Aku juga Heran~"
     " Apa jangan jangan Ian ganti nama jadi Riyan? dan pangeran kelas itu adalah Ian temen masa kecil lu?
Kami diam sejenak dan kemudian tertawa bersama.
     "Hahaha ga mungkin!"
     " Eh udah istirahat, aku minta bekal mu Lun" ucap Dinda

     Kami pun makan bersama, hari ini sangat tenang karna tanpa diganggu oleh Mia dan kawan kawannya itu.

     " Boleh makan bersama?" Riyan si pengeran kelas itu datang lagi. kali ini udah 5 kali dia meminta makan bersama kami.
     " eh kamu kenapa mau sama kita? ga takut nanti fans mu itu pada protes?. lihat tuh yang lain udah pada ngeliatin kita sinis begitu." tanya Dinda dengan Lembut
     " Engga, aku pengen nyobain lagi kue yang dibuat kamu.. Luna." ucapnya penuh karisma
     " ohh jadi ini toh? ambil aja, yang banyak juga gapapa. ya kan Lun?" Colek Dinda kepadaku
     "....."
     " Eh Lun! jangan begong! muka lu itu kayak abis ngeliat hantu tau.."
     " Maaf.. ini ambil saja.. kamu silahkan pergi!" Ucapku sedikit salah tingkah. entah kenapa ucapannya mirip sekali dengan Ian.
     " Aku akan makan disini. boleh kan?" tanya Riyan
     " Booleh aja." Dinda tersenyum'
     " Engga! ga boleh. kamu silahkan makan disana aja.! kamu jangan minta untuk datang lagi dan meminta kueku!" teriakku. Semua orang dikelas dan diluar kelas pun melihat kearahku. sebagian dari mereka terbawa emosi dan ingin mencelakakan aku dan ttpi banyak yang menghalanginya.
     " Hah? eh Lun lu kenapa sih? Dinda ga pernah liat lu sampai begini."
     " Maaf ya, ternyata aku ini buat kalian tidak nyaman. sebelumnya aku berterima kasih ke kalian, sudah berkali kali kalian memberiku kue yang rasanya melegit." ucap Riyan tersenyum dan meninggalkan kue Luna, Luna dan Dinda.
Untuk kedua kalinya aku begong. aku kaget, sangat kaget. "melegit" bagaimana bisa? kata kata itu. kata kata Ian. Ian Nur Rahman. teman kecil ku.

Riyan pun pergi. kelasku kini sepi. karna Riyan telah pergi dari kelasku.
 
      " Dinda. apa aku keterlaluan?" tanyaku
      " Banget Lun!. gara gara lu Riyan ga masuk kelas matematika. padahal dia cinta banget mtk!" jawabnya sedikit emosi.
     " Maaf Din, dia.. terlalu mirip."
     " Mirip siapa? Siwon?"
     " Bukan.. sudahlah lupakan saja." menutup percakapanku dengan Dinda aku menepuk pundaknya dan keluar kelas.
     " Eh Luna! kamu mau kemana? sekarang bukan waktunya berkeliaran." teriak bu Guru matematika
     " Maaf bu, saya izin keluar sebentar. ada sesuatu yang tertinggal."
     " Baiklah,cepat kembali"

Mendengar itu aku langsung berlari. menyusuri lorong sekolah.. menaiki seluruh tangga disekolah, dan akhirnya sampai diatap sekolah..

Tak bisa kubendung tangisku. Kenapa aku sangat bodoh? Dia kan pangeran kelas, kenapa dia aku perlakukan seperti itu? kenapa? kenapa dia sangat mirip dengan Ian? Aku sangat menyesal telah mengusirnya.

     " I love you, Baby I'm not a monster~" terdengar nyanyian merdu dari balik tembok itu. Suara itu menghentikan tangisku. ku intip dari lubang yang ada ditembok itu. dari jauh baunya sangat memikat. dari belakang seperti ku kenal. siapa dia?

to be continue

@nurasmaazkiya